Museum Keramik di Sukabumi Simpan 368 Koleksi Peninggalan dari Abad 8 Masehi : Simbol Jalur Perdagangan Cina di Nusantara

Ratusan keramik di Museum Prabu Siliwangi kini memiliki tempat khusus tersendiri. Keramik-keramik yang berasal dari berbagai negara serta beberapa daerah di Indonesia tersebut kini ditempatkan di Museum Keramik yang masih berlokasi di Museum Prabu Siliwangi, Ponpes Dzikir Al Fath, Kota Sukabumi. Pendirian Museum Keramik ini merupakan usulan dari tim peneliti keramologi, arkeologi, filologi dan prasejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian yang telah dilakukan sejak dua tahun lalu, melahirkan gagasan untuk pendirian Museum Keramik. Pendiri Museum Prabu Siliwangi KH Fajar Laksana mengatakan, pendirian Museum Keramik bertujuan supaya perlindungan objek budaya dan peninggalan sejarah dapat dilakukan lebih fokus. Koleksi keramik yang ada diperkirakan mencapai kurang lebih 1.000 keping. Namun berdasarkan rekomendasi dan kurasi tim peneliti, hanya 368 keramik yang disimpan dan dipajang di Museum Keramik.

“Hasil dari rekomendasi para arkeolog, filolog, ahli sejarah dari BRIN meminta kepada kita, karena keramik sudah hampir mencapai 500 jenis, maka diminta jangan digabung kalau bisa dipisahkan. Akhirnya kita membuat khusus Museum Keramik, dan juga Museum Prabu Siliwangi dipindahkan ke tempat yang lebih representatif,” ujar Fajar, Kamis 6 Agustus 2026.

Mengungkap Sejarah Perdagangan dari Cina di Nusantara Sebanyak 368 keramik tersebut sudah dimasukkan ke dalam buku Katalog Keramik Koleksi Museum Prabu Siliwangi. Yang menariknya, terdapat keramik dari Dinasti Tang, Diansti Song, hingga Dinasti Qing di Cina yang diperkirakan dari periode abad 8 sampai 10 masehi. “Yang paling tua itu di abad ke-8 sampai 10 Masehi, dari Dinasti Song, Dinasti Tang, dan Dinasti Qing. Itu sudah mewakili seluruh dinasti yang ada di China. Kesimpulannya bahwa sejak abad 10 Masehi, di Nusantara ini sudah ada hubungan perdagangan dengan China, karena dibuktikan sudah ada keramik-keramik dari abad 8 sampai abad 10,” ungkapnya. Bukan hanya keramik dari Dinasti Cina, ratusan koleksi lainnya ada yang berasal dari Eropa, Jepang, Timur Tengah serta dari era kerajaan Nusantara yakni Majapahit. “Juga ada keramik dari Timur Tengah di Mesir, yaitu Torpedo Jar 2. Itu ada temuan diduga dari kapal yang tenggelam, dan alhamdulillah itu ada di kita,” paparnya.

Keramik Berasal dari Warisan Fajar mengungkapkan, koleksi keramik ini awalnya berasal dari peninggalan keluarganya yang diwariskan kepadanya. Lama-kelamaan, keturunan dari Kesultanan Banten dan Cirebon yang berada di berbagai daerah menitipkan keramik-keramik untuk disimpan di Museum Prabu Siliwangi sebagai bahan edukasi.

“Kami ini keluarga besar Raden Sumawinata. Dulu itu pengumpul benda-benda kuno dan karena dari warisan. Akhirnya ketika saya buka museum sejak tahun 2010, saudara-saudara saya yang tersebar di beberapa daerah itu mengirimkan keramik itu untuk dipajangkan,” ungkap Fajar.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *