Aset Rp13 Miliar Dijaminkan Demi Santri, 3.000 Peluang Kerja Luar Negeri Masih Kosong

 Komitmen kuat ditunjukkan Pondok Pesantren Modern Al-Fath dalam membuka peluang kerja bagi santrinya. Tak tanggung-tanggung, aset lembaga senilai Rp13 miliar dijaminkan ke perbankan demi memberangkatkan santri bekerja ke luar negeri.

Pengasuh Pondok Pesantren Dzikir Modern Al-Fath, KH. M. Fajar Laksana, mengungkapkan langkah tersebut dilakukan untuk membantu pembiayaan keberangkatan para santri yang telah mengikuti program pelatihan.

“Saat ini aset kita sekitar Rp13 miliar sudah saya jaminkan ke perbankan untuk membantu anak-anak berangkat kerja ke luar negeri,” ujarnya kepada katasukabumi.com di Ponpes Dzikir modern Al-Fath, Gunungpuyuh (17/4).

Menurutnya, skema ini memungkinkan para santri tetap mendapatkan pelatihan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar secara gratis selama di pesantren. Sementara biaya keberangkatan difasilitasi melalui akses pembiayaan dari bank.

“Kita latih semuanya gratis, makan gratis, mondok gratis. Nanti keberangkatan dibantu lewat perbankan dan saya yang menjaminkan aset,” jelasnya.

Namun di balik upaya tersebut, Fajar mengungkapkan fakta bahwa peluang kerja ke luar negeri sebenarnya sangat besar, tetapi belum mampu dimanfaatkan secara maksimal.

“Tahun ini job order kita 3.500, tapi yang bisa kita berangkatkan baru sekitar 500 orang. Masih ada sekitar 3.000 peluang yang belum terisi,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, peluang kerja tersebut datang dari berbagai negara seperti Jepang, Turki, Mesir, Kuwait, Dubai, hingga Eropa dan New Zealand yang saat ini tengah dijajaki.

Dari sisi penghasilan, gaji yang ditawarkan pun cukup tinggi. Untuk kawasan Timur Tengah seperti Kuwait dan Dubai berkisar Rp15 juta per bulan, Jepang sekitar Rp20 juta, bahkan di New Zealand bisa mencapai Rp50 juta.

Meski peluang terbuka lebar, Fajar menilai kendala utama bukan pada ketersediaan pekerjaan, melainkan kesiapan sumber daya manusia.

“Bukan kekurangan kerja, tapi yang siap kerja formal itu masih sedikit. Banyak yang bekerja di sektor informal yang belum sejahtera,” katanya.

Ia menjelaskan, sekitar 70 persen tenaga kerja di Indonesia masih berada di sektor informal, sementara yang benar-benar masuk kategori sejahtera hanya sekitar 30 persen.

Melalui program pesantren, pihaknya mencoba membangun sistem pelatihan berbasis pendidikan karakter dan keterampilan agar para santri siap bersaing di dunia kerja global.

Sebagai bentuk timbal balik, para santri yang telah bekerja nantinya diwajibkan menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui pesantren.

“Ini bukan balas budi, tapi bagian dari ibadah. Kita bangun sistem ekonomi berbasis sedekah,” ujarnya.

Fajar menegaskan, peluang kerja terbuka luas bagi siapa saja, asalkan memiliki kemauan untuk belajar dan menjalani proses pendidikan dengan disiplin.

“Yang penting mau dididik, punya akhlak baik, dan semangat kerja. Peluangnya sangat besar,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, memberikan apresiasi terhadap program yang dijalankan Pesantren Al-Fath. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan tingkat pengangguran terbuka.

“Saya sangat mengapresiasi program Pak Kyai. Ini sejalan dengan upaya pemerintah kota dalam menurunkan tingkat pengangguran terbuka,” ujarnya.

Ia menyebutkan, hingga saat ini jumlah tenaga kerja yang telah diberangkatkan melalui berbagai program, termasuk dari pesantren, telah mencapai 181 orang. Bahkan pada kesempatan tersebut kembali dilakukan pemberangkatan, termasuk ke Jeddah.

“Ini hari ini juga ada yang berangkat, kemarin di Balai Kota juga sudah 50 orang diberangkatkan. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak,” katanya.

Bobby mengungkapkan, saat ini tingkat pengangguran terbuka di Kota Sukabumi berada di angka 8,90 persen dan termasuk tiga tertinggi di Jawa Barat. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan seperti pesantren menjadi langkah strategis.

Selain itu, pemerintah juga tengah berupaya menarik investor melalui penataan tata ruang wilayah, serta bekerja sama dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).

“Ini jadi contoh baik. Pesantren tidak hanya fokus pendidikan, tapi juga mampu menciptakan solusi ekonomi dan lapangan kerja,” tambahnya.

Ia berharap program tersebut dapat mendorong masyarakat, khususnya warga Kota Sukabumi, untuk memanfaatkan peluang kerja ke luar negeri.

“Semoga semakin banyak masyarakat yang tertarik dan ikut program ini,” pungkasnya.

Aset Rp13 Miliar Dijaminkan Demi Santri, 3.000 Peluang Kerja Luar Negeri Masih Kosong

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *